HAFAL MAXIMAL
← ARSIP
3 Oktober 2026

Q.S As-Sajdah: 9

ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

Pengajian Umum
REFLEKSI PRIBADI

Ini ayat pertama dari tiga ayat yang saya telusuri minggu-minggu ini soal apa sebenarnya arti "bersyukur".

Dari tiga hal yang disebut ayat ini — pendengaran, penglihatan, hati — yang paling sering saya sadari dipakai cuma secara pasif adalah penglihatan. Mata ini sebenarnya diberikan supaya saya bisa memahami dunia lewat keterampilan dan pengetahuan visual, bukan cuma supaya saya "bisa melihat". Tapi berapa kali saya benar-benar berkomitmen untuk produktif dengan apa yang saya lihat, dibanding sekadar membiarkannya berfungsi begitu saja?

Yang lebih menampar justru soal hati — consciousness yang diberikan supaya saya sadar, mindful, tahu apa yang seharusnya terjadi. Saya sering tahu sesuatu, tapi tidak mengerjakannya, karena secara tidak sadar saya merasa terbebani olehnya. Butuh waktu untuk sadar: itu bukan sekadar menunda, itu menyia-nyiakan consciousness yang sudah diberikan.

Saya sempat cari tahu soal akar kata "syukur" dalam bahasa Arab klasik, dan ini yang bikin saya makin yakin dengan definisi saya sendiri. Kata syakūr dulu dipakai untuk hewan ternak yang jadi gemuk dan produktif meski cuma diberi sedikit pakan — tubuhnya menampakkan hasil dari apa yang diterima. Lawannya, kufr (mengingkari nikmat), akar katanya justru berarti menutupi atau menyembunyikan. Bukan menolak secara aktif, tapi menyimpan diam-diam sampai tidak kelihatan hasilnya.

Itu persis yang terjadi waktu saya tahu sesuatu tapi tidak mengerjakannya karena merasa terbebani. Saya tidak menolak nikmat kesadaran itu secara terang-terangan — saya cuma menutupinya, membiarkannya tidak menampakkan apa-apa.

Jadi syukur, buat saya, bukan soal berterima kasih atas apa yang diberikan. Itu soal berkomitmen untuk membuat hasilnya kelihatan — lewat eksperimen, lewat mengamati, lewat sungguh-sungguh mendengarkan hal-hal yang bermanfaat, supaya saya jadi manusia yang sadar dan ada kontribusinya ke dunia, bukan cuma manusia yang "berfungsi".

Nikmat yang disyukuri adalah nikmat yang kelihatan tumbuh darinya. Pertanyaannya buat saya: dari pendengaran, penglihatan, dan hati yang saya punya sekarang, yang mana yang masih cuma saya simpan, belum saya tampakkan hasilnya?

CATATAN: INI REFLEKSI PRIBADI PEMILIK, BUKAN TAFSIR RESMI ATAU FATWA.