Q.S. Al-Ma'arij: 19
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.”
Ayat pertama dari tiga ayat yang ingin saya telusuri soal arti "sabar" minggu-minggu ini. Saya sengaja mulai bukan dari perintah untuk bersabar, tapi dari pengakuan tentang bahan dasar manusia: halū'.
Bentuk katanya intensif, menunjukkan watak, bukan kejadian sesekali. Dan Al-Qur'an sendiri menjelaskannya di dua ayat berikutnya: kalau ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah; kalau mendapat kebaikan, ia menahannya. Dua sisi dari watak yang sama.
Minggu ini saya menemukan dua sisi itu di diri saya sendiri, dalam satu kejadian.
Bayangkan sebuah tugas kelompok. Banyak yang enggan berkelompok, dan saya berusaha memfasilitasi supaya mereka mau. Pelan-pelan, mereka mau. Kelompok-kelompok mulai terbentuk. Lalu saya sadar: mereka mau berkelompok, tapi tidak mau sekelompok dengan saya.
Sisi pertama datang lebih dulu: kecewa, lalu marah. Padahal kalau tujuan saya memang supaya mereka mau bergerak, tujuan itu sudah tercapai. Lalu kenapa saya kecewa?
Sisi kedua menyusul tidak lama kemudian, dalam satu kalimat yang terdengar sangat masuk akal di kepala saya:
Biar saja mereka urus sendiri.
Itu bukan sikap tegas. Itu kebaikan yang mulai saya tahan, hanya karena tidak berbalas seperti yang saya harapkan diam-diam.
Saya tahu jawabannya kira-kira soal komunikasi, dan marah tidak memperbaiki apa-apa. Tapi ayat ini tidak dibuka dengan "jangan marah". Ayat ini dibuka dengan "manusia diciptakan begitu". Jadi minggu ini saya tidak buru-buru mencari solusi. Saya cuma mau jujur dulu bahwa dua sisi itu ada, dan keduanya muncul hampir bersamaan.
Saya menghafal ayat ini bukan untuk menuduh orang lain, tapi untuk mengenali kapan watak ini sedang bekerja di saya:
Berapa banyak "biar saja" saya yang sebenarnya cuma kecewa yang menyamar jadi prinsip?