Q.S. Al-Hujurat: 2
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, agar pahala amalmu tidak terhapus sedangkan kamu tidak menyadarinya.”
Ayat ini selalu menampar saya setiap kali ingat suasana kelas atau ruang rapat. Saya sering melihat murid (bahkan rekan kerja saya sendiri) mengobrol dengan suara keras persis ketika orang lain sedang bicara, seolah apa yang mereka bicarakan lebih penting untuk didengar saat itu juga.
Ada rasa miris yang sulit saya jelaskan, bukan karena aturan sopan santun semata, tapi karena ayat ini menaruh hal itu pada level yang jauh lebih serius: soal amal yang bisa terhapus tanpa kita sadari. Beberapa hal yang saya coba pegang dari ayat ini:
Diam bukan kalah memilih tidak menyela bukan berarti pendapat saya tidak penting.
Suara keras di waktu yang salah bisa menghapus lebih banyak daripada yang ia sampaikan.
Saya menghafal ayat ini bukan untuk menghakimi orang lain, tapi untuk mengingatkan diri sendiri.
Apakah saya juga pernah jadi orang yang bersuara keras di saat yang salah, tanpa saya sadari sedang menghapus sesuatu yang seharusnya saya jaga.