QS Al-Baqarah: 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Fastabiqul khairat (berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan) adalah ayat yang saya coba pegang setiap kali dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain muncul.
Yang saya sadari dari ayat ini: standar kemenangannya bukan mengalahkan orang lain. Kalau saya menganggap kompetisi berarti orang lain harus terlihat kalah dulu baru saya terlihat menang, saya sudah salah paham dari awal.
Ayat ini tidak bilang "kalahkan orang lain dalam kebaikan" — ia bilang berlomba MENUJU kebaikan itu sendiri.
Bedanya penting buat saya. Kompetisi yang paling sering saya temui (di tempat kerja, di media sosial) biasanya butuh orang lain terlihat lebih buruk supaya saya terlihat lebih baik. Ayat ini menawarkan bentuk lain: tidak perlu menjelek-jelekkan siapa pun, tidak perlu menghakimi siapa pun yang belum sampai di titik yang sama, karena garis finish-nya bukan posisi orang lain, tapi komitmen saya sendiri untuk tetap berada dalam kebaikan.
Saya menghafal ayat ini bukan untuk mengukur siapa yang lebih unggul, tapi untuk mengingatkan diri sendiri soal apa yang sebenarnya sedang saya kejar.
Apakah saya sudah benar-benar lepas dari kebiasaan diam-diam membandingkan diri dengan orang lain demi merasa lebih baik, atau ayat ini masih perlu saya baca ulang setiap kali dorongan itu muncul lagi?